Mencari Pemimpin Ideal………Adakah?
17 Juni 2008 pada 11:42 am (Jeda)
Memilih pemimpin antara lain didasarkan atas harapan dapat terselesaikannya berbagai permasalahan yang ada saat ini. Sewajarnya memang demikian. Alih-alih menyelesaikan permasalahan yang ada, pemimpin baru seringkali justru menambah persoalan.
Siapa yang salah………………. nampaknya kesalahan sebagian besar pada pemilih.
Kalau Nemu Dompet dengan Segala Isinya, Harus Gimana…
2 Juni 2008 pada 4:45 pm (Jeda)
Dalam perjalanan dari rumah ke Jakarta saya kehilangan dompet dengan segala isinya, ada STNK, SIM, Kartu ATM, Kartu Kredit, KTP, dan sejumlah uang. Ditengah kegalauan saya mencoba bersikap tenang, bagaimanapun masih ada harapan untuk kembali. Seandainya saja, dompet saya ditemukan oleh seseorang, mudah-mudahan yang bersangkutan digerakan hatinya untuk mengembalikannya kepadaku, biarlah uangnya diambil, bahkan saya ingin menambahnya kalau yang bersangkutan mengenalkan diri identitasnya.
Sudah sebulan tidak kabar berita,,,,,, Sudahlah saya harus ikhlas.
Kenaikan Harga BBM
2 Juni 2008 pada 3:45 pm (Jeda)
Pemerintah menyatakan dengan sangat terpaksa menaikan harga BBM untuk menyelamatkan APBN. Sementara menurut beberapa pakar, akademisi, dan politikus seharusnya bisa diambil langkah lain ketimbang menaikan harga BBM untuk menyelamatkan APBN. Bahkan menurut seorang pakar manaikan harga BBM dalam negeri karena harga BBM di pasar Amerika naik adalah suatu kebodohan.
Tak terhitung sudah perdebatan seputar perlu tidaknya kenaikan harga BBM, di televisi, koran, dan melalui media lainnya. Semuanya semakin menambah pusing, sebenanrnya siapa yang benar. Semuanya merasa benar.
Menaikan atau tidak menaikan harga BBM kan dasar itung-itungannya jelas. Jadi mestinya antara pemerintah dengan pihak-pihak yang tidak setuju tinggal duduk bersama menghitung-hitung untuk memastikan perlu tidaknya harga BBM dinaikan.
Saya berpikir, SBY-JK tidak mungkin mempertaruhkan popularitasnya dengan menaikan harga BBM untuk kepentingan yang lainnya.
Tuntutan sebagian mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM sangat mulia, namun sepertinya menyederhanakan permasalahan. Saya yakin suatu saat kalau mahasiswa yang saat ini menolak kenaikan harga BBM duduk di pemerintahan, maka akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pemerintahan SBY-JK.
Pernyataan lawan-lawan politik SBY-JK lebih banyak malu-maluinnya daripada benarnya. kasihan, saya semakin yakin tidak akan memilih dia kalau ngajuin jadi calon presiden atau wakil presiden.
Jadi bagaimana seharusnya kita menyikapi kebijakan pemerintah menaikan harga BBM? Jujurlah pada hatinurani kita masing-masing.
Cuma Pindah Tempat Kok
15 November 2007 pada 3:03 pm (Jeda)
Sebelum menjadi kenyataan, yang satu ini sudah menjadi momok yang menghantui sebagian besar rekan-rekan di kantor. Yang antusias tentu yang berharap akan kembali ke situasi yang diidamkannya, atau paling tidak lebih baik dari yang sedang dijalani.
Hari itu, akhirnya benar-benar terjadi, surat keputusan itu sudah bisa dibaca dengan jelas di layar komputer. Semuanya berkerumun di depan komputer dengan wajah tegang, sambil berebut menunjuk-nunjukan tangannya ke layar monitor. Suasana kantor menjadi riuh, yang heboh justru mereka-mereka yang namanya tidak tercantum dalam daftar itu. Rekan-rekan yang namanya ada, terdiam, ada yang terlihat senang dan ada yang terlihat tegang memerah.
Ooooh, Pak Andi ke Jayapura…………………..padahal beliau sudah menetap di Pekanbaru selama 20 tahun, istri dan anak-anaknya tidak mungkin pindah ke Jayapura, belum lagi ibunda Pak Andi yang sudah renta dan sakit-sakitan. Bang Farhan ke Paluuuu………….daerah konflik yang terus bergejolak, ha ha ha………….. bisnis apa yang akan dikembangkan di sana? Terus bisnis konfeksi dan lain-lainnya yang sudah mantap di Bandung mau diapain yak. Pak Hamid ke Aceh…………..ya udah lah, dia kan memang orang sana, walaupun di Jogja sudah sangat betah, tapi mau gimana lagi, sudah begitu keputusannya bos-bos. Alkhamdulillah, si Adi akhirnya ke Jambi lagi…………….. kasihan, sudah 5 tahun bersabar hidup di Jayapura tidak pernah bisa nengok Ibu, Bapak, dan adik-adiknya yang masih kecil. Dihantui kekhawatiran mendapat jodoh orang Jayapura.
Akhirnya, semuanya mencoba bersikap tenang, cuma pindah tempak kok. Cumaaaaa?
Ternyata,,, Masih Seperti Yang Dulu
27 Oktober 2007 pada 1:08 pm (Pelayanan Publik)
| Setelah berpuasa Ramadhan, seperti biasa mudik ke kampung halaman. Bukan karena kampungan, tapi memohon maaf kepada orang tua memang wajib dilakukan supaya puasa kita tidak sia-sia, kalo tidak ada halangan lebih afdhol secara langsung, daripada nelpon tok. Kali ini naik Bus Dewi Sri ke Kota Tegal. Dulu, Sinar Jaya dan Dedy Jaya pernah jadi favoritku. | |
| Mudik pas Hari-H, syukur ternyata tidak berebut, namun tetap ramai-banyak penumpang yang masih baby. Penampilan bus yang baru, sesuai dengan yang kubayangkan. Tapi bukan itu yang terpenting yang kuharapkan, melainkan pelayanan dan kenyamanan.Kembali aku kecewa, tapi untungnya sudah biasa dikecewakan, jadi enjoy saja lah.Kalau pengelola armada bus nyadar, pelayanan dan kenyamanan disamping penting dari aspek bisnis, juga bisa menjadi media pembelajaran untuk meningkatkan kesadaran dan kedewasaan masyarakat. Semoga, semuanya akan segera berubah ke arah yang lebih baik. | |
Dimana Bumi Dipijak Disitu Tanah Dikapling
18 Oktober 2007 pada 4:08 am (Jeda)
Senada dengan nasehat “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, ada ungkapan “dimana bumi dipijak disitu tanah dikapling”. Yang terakhir ini, nampaknya bukan nasehat bijak para orang tua, tahunya juga baru-baru ini, dari teman-teman yang biasa sama-sama sarapan atau sekedar ngopi/ngeteh di kedai si Akho. Saya coba mengerti maksud yang sesungguhnya dari ungkapan tersebut, namun tidak ada penjelasan yang bisa dijadikan pegangan.
Jadi saya lihat saja bagaimana orang-orang menafsirkan dan mengimplementasikan ungkapan tersebut. Pada dasarnya semua sependapat bahwa, kita perlu tempat tinggal yang menjadi milik kita sendiri, alias tidak ngontrak.
-
Pertama, kelompok ini berpendapat bahwa tanah perlu dikapling untuk didirikan rumah tempat tinggal yang berstatus rumah sendiri. Soalnya tidak mungkin menjadi kontraktor terus menerus. Disamping harga sewanya yang terus naik, juga banyak urusan teknis/ non teknis yang memusingkan. Kelompok ini merasa tidak perlu memiliki kaplingan tanah lain selain untuk tempat rumah tinggal. Bukan karena tidak punya uang loh, tapi karena memang prinsip.
-
Kedua, kelompok ini berpendapat bahwa selain untuk didirikan rumah diatasnya, tanah juga perlu dikapling sebagai investasi. Menurut kelompok ini, tanah yang dikapling untuk investasi jumlahnya sekedarnya saja, misalnya berdasarkan jumlah anak dan atau sesuai keperluan.
-
Ketiga, kelompok ini mengkapling tanah sebanyak-banyaknya, sampai banyak yang terlantar alias menjadi lahan tidur.
Itulah yang bisa saya identifikasi. Terhadap kelompok yang pertama dan kedua saya bisa memahami. Tetapi terhadap kelompok yang ketiga, saya tidak setuju. Soalnya, masih banyak saudara-saudara kita yang tidak punya kaplingan. Ironisnya, para petani pun sudah banyak yang tidak memiliki lahan untuk digarap.
Mudah-mudahan saya termasuk kelompok yang bersikap bijaksana dalam hal kapling-mengkapling tanah ini.
Di mana Bumi Dipijak Di situ Langit Dijunjung.
16 Oktober 2007 pada 8:36 am (Jeda)
2 jam setelah dituntun bikin blog dengan hasil tampilan blog ala kadarnya, akhirnya coba nulis apa yang lagi ada dipikiran, sebagai yang pertama, mudah-mudahan tulisan yang menarik. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, intinya dimana saja kita tinggal maka kita harus menghargai adat istiadat setempat. Itulah makna yang saya pahami, mudah2-an tidak jauh meleset. Ada masalah apa rupanya? Kan sudah jelas, kan memang demikian adanya.
Nasehat bijak ini memang perlu kita amalkan, apalagi bagi yang nomaden alias suka pindahan tempat beraktivitasnya. Namuuun ….…., ternyata tak selalu mudah koq-urusanya. Bagaimana kalau adat istiadat setempat tidak sesuai dengan prinsip dan atau nilai-nilai yang kita anut ? Bagaimana kalau kita sulit mengubah mind set kita walaupun rasa-rasa kéliru. Kadang kita pun kurang wawasan untuk tahu nillai/prinsip mana yang benar plus (lebih baik).
Kalau tak pandai-pandai mensikapi, salah satunya akibatnya adalah eksklusifisme, atau paling tidak kurang bersosialisasi. Sudah banyak kejadianya, mungkin kita sendiri pelakunya.
Akhirnya, saya pengin kasih saran, tapi,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, sudahlah, biar anda sendiri saja. He he he.


